Alkisah di sore hari ada seorang mahasiswa akuntansi semester IV, sebut saja namanya budi, sedang duduk-duduk santai di luar kelas sembari memijat-mijat layar smartphone kesayangannya menunggu dosen akuntansi manajemen untuk memberikan tugas yang terlambat diserahkan. Tempatnya duduk tidak jauh dari ruang kelas yang berisi sejumlah mahasiswa yang sedang berdiskusi tentang akuntansi untuk kombinasi bisnis. Tak lama kemudian ia mendengar salah seorang di kelas tersebut menyebut kata goodwill. Penasaran dengan apa yang didengarnya tadi, bertanyalah ia pada Pak Deka, dosen akuntansi keuangan menengah, yang kebetulan sedang duduk sambil memainkan smartphone juga di sampingnya.

B : Pak goodwill itu apa?

D : Goodwill itu seorang pelawak

B : Itu K*wil pak K*wil, saya nanya serius ini pak

D : Jangan suka serius-serius nanti ujung-ujungnya kamu sakit hati

B : wehh bapak nih malah baper, saya nanya soal goodwill pak bukan soal cinta, yo wes saya ga serius, jadi goodwill itu apa pak?

D : oke, dengerin baik-baik yah, ekhem jadi gini:

goodwill kalau ditransalasikan ke bahasa indonesia mungkin berarti “niat baik”. Good=baik, will=niat/kehendak/kemauan/muhibbah, jadi goodwill=niat/kenendak/kemauan/muhibbah yang baik. Tapi, terlepas artinya seperti apa, goodwill merupakan istilah yang umum didengar dalam dunia akuntansi, bisnis, dan keuangan terlebih sejak maraknya penggabungan usaha di akhir abad 20.

B : Ya iya pak kalau dibahasa indonesiain mah saya juga tau, bapak nih muter-muter mulu dari tadi

D : Aih kamu nih ngeyel yah, ya bentar ini kan lagi saya jelasin jangan suka motong-motong gitu tar kalau umurnya kepotong baru tau rasa. Lanjut ga nih?

B : Iya pak maaf maaf, yo wes pak lanjut

D : Jadi sebenarnya goodwill itu adalah selisih antara nilai wajar dengan biaya perolehan. Menurut US-GAAP, goodwill merupakan kelebihan biaya investasi terhadap nilai wajar aset yang diterima (Beams, 2009:15). Goodwill hanya terjadi dalam suatu penggabungan usaha, saat satu perusahaan mengakuisisi aset milik perusahaan lain. Nah Jika nilai wajar aset yang diakuisisi tersebut lebih kecil dari biaya perolehaannya maka selisihnya disebut goodwill positif dan negatif jika nilai wajar berada di atas biaya perolehan. Goodwill merupakan aset tak berwujud yang harus diamortisasi sepanjang masa manfaatnya. Goowdill juga harus diuji setiap tahunnya apakah terjadi penurunan nilai atau tidak tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu indikasi penurunan nilai. Di Indonesia, karena merupakan buah dari proses penggabungan usaha, goodwill diatur dalam PSAK 22 Kombinasi bisnis yang diadopsi dari IFRS 3 Business Combination. PSAK 22 mengatur bahwa perusahaan pengakuisisi harus mengakui goodwill yang diperoleh dalam kombinasi bisnis sebagai aset pada tanggal akuisisi (paragraf 51(d)). Namun, seperti yang saya sampaikan tadi, karena goodwill merupakan aset tak berwujud maka harus diamortisasi dan nilainya dialokasikan menjadi beban setiap periode pelaporan.

Secara teori goowill adalah ukuran nilai sekarang (present value) dari kelebihan laba masa depan yang diproyeksikan dari perusahaan yang bergabung terhadap laba normal perusahaan sejenis.

Gimana? Sampe sini udah ngerti?

B : Wealah pak ribet amat to penjelasannya ga ada yang lebih simpel? masih belum ngerti saya, bisa kasih contoh aja ga pak?

D: Ya sudah sudah saya kasih contoh sederhana. Misalkan kamu punya PT namanya PT. AIU, nah perusahaan kamu nih mau menggabungkan usahanya dengan PT. TATITU melalui skema akuisisi. Anggaplah di sini perusahaan kamu yang mengakuisisi. Pada saat itu ternyata nilai wajar aset PT. TATITU setelah dilakukan penilaian adalah sebesar Rp. 1000 dan nilai wajar liabilitasnya adalah Rp. 500. Dengan demikian aset bersih PT. TATITU adalah sebesar (Rp 1000 – Rp 500) Rp 500. Setelah proses negosiasi yang alot serta panjang kali lebar ternyata perusahaan kamu bersedia membayar sebesar Rp. 700 untuk mengakuisisi aset milik PT. TATITU tadi. Nah Rp 700 ini kita sebut dengan biaya perolehan dan karena biaya perolehan ini lebih besar Rp 200 dari aset bersih tadi (Rp 700 – Rp 500) maka Rp 200 tersebut merupakan goodwill positif. begituuuuuuuu

Buat lebih jelasnya sok liat tabel ini.

B : aih pak ko bisa ada tabel segala, sejak kapan? bapak udah persiapan? Hahaha

D :  ya sebenernya saya udah punya firasat kalau kamu bakal nanya soal goodwill

B : macem peramal saja lah bapak ni, yo wes pak ta liat tabelnya

(sejenak lihat tabel)

  1. TATITU
  Nilai Wajar
Aset Rp. 1000
Liabilitas Rp. 500
Aset Bersih (Rp 1000 – Rp 500) Rp. 500

 

Perhitungan Goodwill

Biaya investasi Rp. 700
Aset Bersih Rp. 500
Goodwill (positif) (Rp 700 – Rp. 500) Rp. 200

 

D : Gimana udah ngerti?

B : Oooo jadi gitu yah pak, berarti kalau misalkan selisihnya negatif itu berarti goodwillnya negatif?

D : Ya bisa dibilang begitu

B : Ya okelah pak kalau gitu saya udah ngerti sekarang, ternyata cuman begitu yah goodwill (ngelus-ngelus jenggot)

D: Lah gaya mu nih macem orang ber-IQ 300 saja, buat ngerti aja tadi lamaaa

B : Hehe ya udah pak makasih yah, saya permisi dulu kalau gt mau ketemu bu eka

D : bu eka dosen akuntansi manajemen?

B : iya pak

D : titip salam yah kalau gt (sambil nyengir)

B : (dengan wajah sedikit terkejut dibalut faham) siapppp pakk laksanakan

To be continued

Featured image from: http://www.salesforce.org/stories/goodwill/

Advertisements