Adjusment/penyesuaian adalah suatu salah satu proses dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan dimana akun-akun tertentu disesuaikan melalui prosedur-prosedur tertentu dengan maksud memastikan setiap akun nominal menunjukkan pendapatan dan beban yang seharusnya diakui dalam suatu periode sehingga menghasilkan laba yang sebenarnya diperoleh pada periode tersebut dan untuk memastikan setiap akun riil menunjukkan jumlah aset dan kewajiban yang sebenarnya pada akhir periode. Proses ini merupakan hal yang lumrah dan seringkali dijumpai dalam akuntansi. Akuntansi mengenal beberapa prinsip yang erat kaitannya dengan penentuan laba seperti dasar akrual, periodisasi pelaporan, prinsip pendapatan, dan prinsip penandingan. Untuk itu, sebelum membahas mengenai penyesuaian dalam akuntansi ada baiknya mengetahui sekilas mengenai prinsip-prinsip tersebut.

***************************************************************************

Dasar Akrual

Berdasarkan Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan (KDPPLK), asumsi yang melandasi penyusunan laporan keuangan selain prinsip going concern adalah dasar akrual. Perlu diketahui, terdapat dua macam dasar dalam pencatatan transaksi, baik beban maupun pendapatan, yaitu dasar tunai (cash base) dan dasar akrual (acrual base). Pada keduanya jelas terdapat perbedaan. Jika dasar tunai mengharuskan transaksi (beban dan pendapatan) dicatat hanya saat kas diterima dan tidak dicatat jika tidak terjadi penerimaan kas maka dasar akrual adalah sebaliknya, transaksi (beban dan pendapatan) akan dicatat bukan dengan memperhatikan kas sudah atau belum diterima melainkan dengan memperhatikan substansi transaksi itu sendiri dalam arti apakah beban sudah menjadi kewajiban dan apakah pendapatan sudah menjadi hak perusahaan. Jika beban sudah menjadi kewajiban perusahaan maka harus segera dicatat tanpa menunggu kas keluar dan pendapatan dicatat jika sudah menjadi hak perusahaan tanpa harus menunggu kas diterima.

Periodisasi Pelaporan

Untuk mengetahui berapa laba yang diperoleh pada suatu periode maka diperlukan periodisasi terhadap laporan keuangan yang nantinya memuat informasi-informasi penting sehubungan dengan pendapatan dan beban perusahaan. Tanpa dilakukannya periodisasi maka sulit untuk mengetahui berapa sebenarnya laba yang diperoleh perusahaan dalam jangka waktu tertentu. Perusahaan pada umumnya menentukan siklus akuntansi atau periode laporan keuangan dalam jangka waktu satu tahun, biasanya dimulai dari bulan januari hingga desember atau ada pula yang dimulai dari bulan april hingga maret. Di akhir periode yang telah ditentukan tersebut, diasumsikan bahwa seluruh kegiatan perusahaan telah dihentikan(untuk itu akun-akun beban dan pendapatan harus ditutup di setiap akhir periode)dan akan dimulai pada periode berikutnya sehingga dapat diperoleh informasi mengenai jumlah laba yang diperoleh pada periode yang bersangkutan. Selain periode selama satu tahun, terkadang manajemen membutuhkan informasi mengenai kinerja perusahaan lebih cepat misalnya per bulan atau per tiga bulan sehingga laporan keuangan dibuat berdasarkan periode tadi. Laporan keuangan tersebut dinamakan laporan keuangan interim.

Prinsip Pendapatan

Prinsip pendapatan berkaitan dengan masalah 1) kapan pendapatan dicatat sebagai transaksi, dan 2) jumlah pendapatan yang dicatat. Pendapatan dicatat saat diperoleh atau saat menjadi hak perusahaan (dasar akrual). Namun demikian yang menjadi permasalahannya adalah bagaimana suatu kejadian dapat dikategorikan sebagai pendapatan dan dicatat sebagai transaksi dalam pembukuan. Untuk menjawab permasalahan tersebut maka yang perlu diperhatikan adalah apakah aktivitas tersebut merupakan kesepakan yang bersifat mengikat dua belah pihak (konsumen dan produsen) dalam arti telah terjadi transaksi ataukah bukan. Jika seorang konsumen (yang membutuhkan barang atau jasa) datang pada produsen (yang menyediakan barang atau jasa) kemudian menyatakan keinginannya untuk membeli barang atau jasa pada produsen namun belum terjadi kesepakatan yang bersifat mengikat keduanya maka aktivitas tersebut tidak perlu dicatat sebagai pendapatan karena sejatinya belum terjadi transaksi antara kedua belah pihak tadi dan baru merupakan keinginan dari konsumen semata. Jika di kemudian hari konsumen tersebut datang kembali dan sepakat untuk memberikan sejumlah tertentu pada produsen baik secara tunai maupun tangguhan dalam suatu bentuk perjanjian yang sah secara hukum kemudian produsen telah menyerahkan barang atau jasa yang diminta maka aktivitas tersebut merupakan transaksi dan produsen mencatatnya sebagai pendapatan. Sedangkan mengenai jumlah pendapatan yang dicatat adalah sebesar nilai tunai barang atau jasa yang diserahkan.

Prinsip penandingan (The Principle of Matching Cost Againts Revenue)

Prinsip ini menyatakan bahwa pendapatan yang diterima harus ditandingkan dengan beban yang dikorbankan dalam rangka memperoleh pendapatan tersebut dan  beban tersebut haruslah terjadi pada periode yang sama dengan diterimanya pendapatan. Dengan kata lain, biaya-biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan namun tidak ada kaitannya baik secara langsung maupun tidak langsung dengan pendapatan yang hendak diperoleh dan terjadi pada periode yang berbeda dengan pendapatan tidak boleh dimasukkan sebagai beban pada periode pendapatan tersebut diperoleh. Hal ini dilakukan guna memperoleh jumlah laba yang sebenarnya dihasilkan perusahaan pada  suatu periode dan sebagai upaya untuk menghindari adanya tindakan yang membuat laba menjadi lebih saji (dengan menghilangkan beban-beban tertentu) atau kurang saji (dengan menambah beban-beban yang tidak memiliki relevansi, baik relevansi secara langsung maupun tidak langsung, dengan pendapatan).

***************************************************************************

Tidak semua akun harus disesuaikan, kita dapat langsung menyusun laporan keuangan dari neraca saldo jika tidak terdapat akun-akun yang perlu disesuaikan. Namun jika yang terjadi adalah sebaliknya (terdapat akun yang harus disesuaikan) maka sebelum menyusun dan menyajikan laporan keuangan diperlukan penyesuaian terlebih dahulu dengan membuat jurnal penyesuaian untuk menghasilkan jumlah yang sebenarnya dari setiap akun nominal dan akun riil. Akun-akun yang perlu disesuaikan diantaranya adalah yang termasuk ke dalam kelompok berikut:

  1. Beban dibayar dimuka
  2. Pendapatan diterima dimuka
  3. Depresiasi, amortisasi, dan deplesi
  4. Beban yang masih harus dibayar
  5. Pendapatan yang masih akan diterima
  1. Beban Dibayar Dimuka

Seringkali perusahaan membayar dimuka beban-beban tertentu untuk jangka waktu tertentu. Misalnya pada tanggal 3 Januari 20X9 PT. Accorner Retailindo membayar dimuka biaya sebesar Rp 60.000.000,00 untuk sewa gedung selama enam bulan. Dana yang dikeluarkan tersebut sebenarnya merupakan beban sewa bagi perusahaan selama enam bulan namun pada saat menyusun laporan keuangan interim per bulan (misalnya) maka biaya yang diakui untuk bulan yang bersangkutan merupakan alokasi dari biaya sewa yang dibayar dimuka untuk setiap bulannya. Misalnya, perusahaan hendak menyusun laporan keuangan per bulan untuk periode yang berakhir pada 31 Januari 20X9 maka biaya sewa yang diakui selama bulan Januari hanyalah sebesar Rp 10.000.000 (Rp 60.000.000/6) sedangkan sisanya belum diakui sebagai biaya. Hal ini bisa dipahami dengan mudah bahwa biaya haruslah diakui berdasarkan periode terjadinya (prinsip matching cost againts revenue) dan saat biaya tersebut sudah menjadi kewajiban perusahaan (asumsi acrual). Biaya dibayar dimuka ini tidak diatur secara khusus dalam PSAK namun perlakuannya dalam mengacu pada KDPPLK.

Berdasarkan kasus  di atas, jurnal yang diperlukan untuk mencatat biaya dibayar dimuka adalah sebagai berikut:

20X9 Keterangan Debet Kredit
Jan 3 Biaya Dibayar Dimuka Rp 60.000.000
                Kas Rp 60.000.000

Berdasarkan jurnal di atas, akun biaya dibayar dimuka bersaldo normal debet, dicatat sebagai aset dan diletakkan di laporan keuangan sebagai aset lancar. Sedangkan jurnal yang diperlukan untuk mencatat penyesuaian biaya dibayar dimuka pada tanggal  31 Januari 20X9 adalah sebagai berikut:

20X9 Keterangan Debet Kredit
Jan 3 Biaya Sewa Gedung Rp 10.000.000
              Biaya Dibayar Dimuka Rp 10.000.000

Jurnal diatas akan menyebabkan munculnya biaya sewa gedung untuk bulan Januari sebesar Rp 10.000.000,00 dan menyebabkan saldo biaya dibayar dimuka berkurang sebesar Rp 10.000.000,00 sehingga jumlah biaya dibayar dimuka yang dicatat di laporan posisi keuangan hanya tinggal Rp 50.000.000,00

  1. Pendapatan Diterima Dimuka

Pendapatan diterima dimuka adalah pendapatan yang diterima di awal oleh perusahaan untuk jangka waktu tertentu. Sama halnya dengan biaya dibayar dimuka, pendapatan diterima dimuka harus disesuaikan untuk menunjukkan pendapatan yang sebenarnya diperoleh untuk suatu periode. Untuk itu, jumlah pendapatan diterima dimuka akan dialokasikan ke setiap periode diakuinya pendapatan. Contoh, pada tanggal 3 Januari 20X9 PT. Suma Berkah Jaya memperoleh pendapatan sewa sebesar Rp 60.000.000,00 dari PT. Accorner Retailindo untuk sewa gedung selama enam bulan ke depan. Pendapatan sewa yang diterima oleh PT. Suma Berkah Jaya untuk sewa gedung selama enam bulan tersebut merupakan pendapatan diterima dimuka bagi PT. Suma Berkah Jaya. Jurnal yang diperlukan untuk mencatat transaksi tersebut adalah sebagai berikut:

20X9 Keterangan Debet Kredit
Jan 3 Kas Rp 60.000.000
   Pendapatan Diterima Dimuka Rp 60.000.000

Akun pendapatan diterima dimuka tersebut bersaldo normal kredit, dicatat di bawah modal dalam laporan posisi keuangan. Saat perusahaan menyusun laporan keuangan interim untuk periode yang berakhir pada 31 Januari 20X9 maka pendapatan sewa yang diakui untuk periode tersebut (bulan januari) hanyalah sebesar 1/6 bagian dari pendapatan diterima dimuka (1/6 x Rp 60.000.000,00). Penyesuaian yang dilakukan atas pendapatan sewa tersebut dicatat dengan jurnal berikut:

 20X9 Keterangan Debet Kredit
Jan 31 Pendapatan Diterima Dimuka Rp 10.000.000
     Pendapatan Sewa Rp 10.000.000

Dengan jurnal di atas, saldo Pendapatan Diterima Dimuka di akhir periode bulan Januari dan awal bulan Februari otomatis akan berkurang menjadi Rp 50.000.000,00. Hal ini karena sebesar Rp 10.000.000 Pendapatan Diterima Dimuka telah dialokasikan ke dalam akun Pendapatan Sewa. Dan seterusnya, penyesuaian atas Pendapatan Diterima Dimuka harus terus dilakukan untuk periode-periode berikutnya sampai saldonya mencapai Rp 0.

  1. Depresiasi, Amortisasi, Deplesi

Depresiasi/penyusutan merupakan proses pengalokasian biaya perolehan aset tetap yang dilakukan secara sistematis selama masa manfaat aset tetap. Perbedaan depresiasi dengan amortisasi dan deplesi terletak pada objek biaya perolehan yang dialokasikan. Jika biaya perolehan yang dialokasikan dalam depresiasi adalah biaya perolehan untuk aset tetap maka dalam amortisasi dan deplesi yang dialokasikan masing-masing adalah biaya perolehan untuk aset tak berwujud dan sumber alam.  Jadi, alokasi biaya perolehan untuk aset tetap dinamakan depresiasi, alokasi biaya perolehan untuk aset tak berwujud dinamakan amortisasi, dan alokasi biaya perolehan untuk aset sumber alam dinamakan deplesi. Metode alokasi yang terdapat baik pada depresiasi, amortisasi, maupun deplesi umumnya sama. Untuk itu, yang dibahas kali ini hanyalah mengenai depresiasi.

Depresiasi merupakan perwujudan prinsip going concern. Estimasi umur ekonomis dan masa manfaat aset tetap dalam depresiasi menunjukkan bahwa perusahaan seolah-olah dapat beroperasi secara terus menerus dan tidak pernah tutup (going concern). Depresiasi didasarkan pada asumsi akrual bahwa biaya harus diakui saat menjadi kewajiban perusahaan dan juga berkatian dengan prinsip pendandingan bahwa biaya harus dibebankan saat biaya tersebut memberikan manfaat bagi perusahaan dalam rangka memperoleh pendapatan.

Mengapa diperlukan depresiasi? Selain dengan maksud menempatkan biaya sesuai dengan periode saat biaya tersebut memberikan manfaat pada perusahaan, depresiasi juga menunjukkan penurunan kemampuan potensial aset tetap perusahaan. Pada dasarnya, seiring dengan pemakaian aset tetap kemampuan aset tetap tersebut dalam memberikan manfaat ekonomis bagi perusahaan akan menurun/menyusut dari satu periode ke periode berikutnya. Untuk itu, biaya perolehan aset tetap harus dialokasikan sepanjang masa manfaat aset tetap tersebut.

Alasan lain yang lebih sederhana adalah karena tidak mungkin untuk langsung membebankan seluruhnya biaya perolehan aset tetap sedangkan manfaat yang diberikan oleh aset tetap sendiri merupakan manfaat jangka panjang. Perusahaan jelas akan menderita kerugian yang sangat besar jika biaya perolehan aset tetap langsung dibebankan seluruhnya. Oleh karena itu, biaya perolehan tersebut haruslah dibebankan secara bertahap sampai manfaat yang diberikan oleh aset tetap telah terhenti. Contoh PT. Accorner Retailindo membeli peralatan sebesar Rp 6.000.000.000,00 pada 2 Januari 20X9. Transaksi tersebut merupakan biaya yang harus dibebankan perusahaan dan harus ditandingkan dengan pendapatan guna mengetahui laba yang dihasilkan. Namun, apakah jumlah sebesar Rp 6.000.000.000,00 harus langsung dibebankan seluruhnya di akhir periode sedangkan di sisi lain peratalan tersebut memberikan manfaat tidak hanya pada periode tersebut?. Tentu tidak, seandainya masa manfaat peralatan adalah 5 tahun maka biaya perolehan tersebut haruslah dialokasikan untuk masing-masing periode selama 5 tahun. Dengan demikian, biaya perolehan peralatan PT. Accorner Retailindo yang harus dialokasikan pertahunnya adalah Rp 1.200.000.000 (jika menggunakan metode garis lurus dan tidak terdapat nilai sisa peralatan), inilah biaya penyusutan selama satu periode yang harus ditandingkan dengan pendapatan yang diterima yang mencerminkan harga/biaya atas manfaat yang diberikan perlatan pada periode tersebut. Nilai tersebut juga mencerminkan kemampuan potensial peralatan yang turun seiring dengan pemakaian yang dilakukan perusahaan.

Terdapat 4 (empat) metode yang digunakan untuk menentukkan jumlah penyusutan yaitu metode garis lurus (straightline methode), saldo menurun ganda (double declining methode), jumlah angka tahun, dan satuan produksi. masing-masing metode akan menghasilkan jumlah depresiasi yang berbeda namun dengan substansi yang sama. Standar akuntansi (tepatnya PSAK 16 tentang Aset Tetap) memperkenankan perusahaan untuk memilih 1 dari 4 metode tersebut namun mengharuskan perusahaan agar konsisten dengan metode yang dipilih dan mensyaratkan agar metode yang digunakan dapat mencerminkan pola konsumsi perusahaan atas aset tetap yang dimiliki. Peraturan perpajakan hanya memperbolehkan perusahaan menggunakan metode garis lurus (straightline methode) dan saldo menurun (double declining methode)untuk depresiasi dan amortisasi saat menyusun laporan fiskal untuk keperluan perpajakan, namun untuk deplesi diperkenankan menggunakan metode satuan produksi.

Untuk pemahaman awal mengenai depresiasi dan bagaimana mencatat jurnalnya, diberikan contoh perhitungan penyusutan dengan menggunakan metode garis lurus. Pembahasan lebih lanjut mengenai metode lainnya akan diberikan di lain kesempatan. Berdasarkan contoh di atas, ayat jurnal yang harus dicatat atas transaksi tersebut adalah sebagai berikut.

20X9 Keterangan Debet Kredit
Jan 2 Peralatan Rp 6.000.000.000
                Kas Rp 6.000.000.000

Perusahaan diasumsikan menggunakan metode garis lurus dalam menghitung penyusutan peralatan dan dianggap tidak ada nilai sisa dari peralatan tersebut. Dengan demikian pada 31 Januari 20X9 penyusutan peralatan perusahaan adalah sebesar Rp 100.000.000, berikut adalah perhitungannya.

Biaya perolehan                  = Rp 6.000.000.000

Masa manfaat peralatan = 5 Tahun

Depresiasi per tahun        = Biaya Perolehan/Masa Manfaat

= Rp 6.000.000.000/5

= Rp 1.200.000.000

Depresiasi Per Bulan         = Depresiasi Per Tahu/12

= Rp 1.200.000.000/12

= Rp 100.000.000

Jurnal yang diperlukan guna mencatat beban depresiasi di atas adalah sebagai berikut.

20X9 Keterangan Debet Kredit
Jan 31 Biaya Depresiasi Rp 100.000.000
  Akumulasi Depresiasi Peralatan Rp 100.000.000

Akun Akumulasi Depresiasi Peralatan pada jurnal di atas merupakan akun kontra dari akun Peralatan. Saldo normal dari akun ini adalah kredit. Bisa diperhatikan pada jurnal di atas tidak ada kas yang keluar saat adjustment biaya penyusutan melainkan penambahan saldo akun Akumulasi Depresiasi Peralatan. Hal ini karena kas sebenarnya telah dikeluarkan saat pembelian peralatan namun perusahaan perlu untuk mencatat biaya yang timbul atas manfaat yang diperoleh dari kepemilikan peralatan untuk itu pengakuan biaya pembelian peralatan tersebut ditunda sampai akhir periode akuntansi dan dibebankan dengan cara dialokasikan. Karena merupakan akun kontra dari akun Peralatan, akun Akumulasi Depresiasi Peralatan disajikan di Laporan Posisi Keuangan di bawah akun Peralatan. Selisih antara akun Peralatan dengan akun Akumulasi Depresiasi Peralatan merupakan nilai buku Peralatan.

Akumulasi Depresiasi Peralatan merupakan sumber dana internal perusahaan dan bisa digunakan untuk keperluan perusahaan baik yang bersifat darurat ataupun tidak (tergantung keputusan manajemen). Hal ini karena saat ditandingkan dengan pendapatan tidak terjadi pengeluaran kas oleh perusahaan, yang terjadi hanyalah pengalokasian biaya. Dengan demikian perusahaan terlihat seperti “menabung” untuk membeli aset tetap yang baru atau untuk keperluan perusahaan lainnya seperti ekspansi. Semakin besar akun ini maka semakin besar sumber dana internal yang dimiliki perusahaan.

  1. Biaya Yang Masih Harus Dibayar

Selain biaya yang dibayar dimuka atau biaya lain yang sudah dibayar, perusahaan juga memiliki biaya yang masih harus dibayar di kemudian hari. Biaya yang masih harus dibayar adalah biaya yang sudah diakui sebagai kewajiban namun pengeluaran kas untuk pembayaran biaya tersebut ditangguhkan atau dilakukan di kemudian hari (tidak bersamaan dengan pengakuan biaya). Berdasarkan asumsi akrual, biaya harus diakui saat sudah menjadi kewajiban perusahaan tanpa menunggu terjadinya pengeluaran kas. Contoh biaya yang masih harus dibayar adalah gaji karyawan untuk suatu bulan yang dibayarkan di awal bulan berikutnya. Misalkan perusahaan membayar gaji karyawan untuk bulan Januari 20X9 pada tanggal 1 februari 20X9. Meskipun pembayaran dilakukan pada bulan berikutnya yakni 1 februari 20X9, perusahaan tetap harus mengakui gaji karyawan sebagai biaya pada akhir bulan Januari  dan bukan di awal Februari saat gaji tersebut dibayarkan. Hal ini karena biaya tersebut adalah gaji karyawan selama bulan Januari sehingga harus diakui sebagai biaya di akhir bulan tersebut meskipun pembayarannya dilakukan di bulan berikutnya.  Berikut contoh adjusment yang harus dilakukan untuk gaji karyawan.

Misalkan gaji untuk 500 karyawan pada contoh di atas adalah sebesar Rp Rp 1.600.000.000, saat perusahaan hendak menyusun laporan keuangan interim yang berakhir pada 31 Januari 20X9 maka jurnal yang diperlukan adalah sebagai berikut:

     20X9 Keterangan Debet Kredit
Jan 31 Biaya Gaji Karyawan Rp 1.600.000.000
       Utang Gaji Rp 1.600.000.000

Bisa diperhatikan pada jurnal di atas biaya gaji karyawan diakui pada periode terjadinya yakni bulan Januari. Namun karena belum terjadi pengeluaran  kas untuk pembayaran gaji tersebut,  akun yang dikredit adalah Utang Gaji (Perusahaan diasumsikan memiliki utang berupa gaji yang harus dilunasi pada karyawan). Pada tanggal 1 Feberuari, saat gaji tersebut dibayarakan, maka jurnal yang harus dibuat atas pembayaran gaji tersebut adalah sebagai berikut:

20X9 Keterangan Debet Kredit
Feb 1 Utang Gaji Rp 1.600.000.000
       Kas Rp 1.600.000.000

Dengan jurnal di atas, Utang Gaji akan bersaldo Rp 0 dan kas berkurang sebesar gaji yang dibayarkan.

  1. Pendapatan Yang Masih Akan Diterima

Sama dengan biaya yang masih harus dibayar, umumnya perusahaan juga memiliki pendapatan yang masih akan di terima di masa yang akan datang. Jika pada biaya yang masih harus dibayar perusahaan harus mengakui biaya tersebut meski belum ada pengeluaran kas, maka pada pendapatan yang masih akan diterima perusahaan harus mengakui pendapatan tersebut meski belum terjadi penerimaan kas (asumsi akrual). Hal ini karena pendapatan tersebut secara substansi sudah menjadi hak perusahaan untuk suatu periode meski kas baru akan diterima pada periode berikutnya. Contoh pendapatan yang masih akan diterima adalah piutang usaha. Misalkan pada tanggal 30 April 20X9 perusahaan melakukan penjualan secara kredit kepada pelanggan sebesar Rp 2.000.000.000, jurnal yang diperlukan untuk mencatat penyesuaian atas transaksi tersebut adalah sebagai berikut

 20X9 Keterangan Debet Kredit
Apr 30 Piutang Usaha Rp 3.000.000.000
       Pendapatan Rp 3.000.000.000

Transaksi tersebut merupakan pendapatan bagi perusahaan namun penerimaan kas atas transaksi tersebut baru akan diterima di kemudian hari sesuai dengan kesepakatan yang dibuat oleh kedua belah pihak (jangka waktu pelunasan biasanya tercantum dalam faktur penjualan). Berdasarkan jurnal di atas, pendapatan sudah menjadi hak perusahaan untuk periode tersebut sehingga harus diakui dan dicatat dalam pembukuan. Jika transaksi tersebut tidak disesuaikan dan dicatat maka akun Piutang Usaha dan Pendapatan akan menghasilkan saldo yang kurang saji untuk periode tersebut.

Advertisements