Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan (KDPPLK) merupakan konsep-konsep dasar yang menjadia pedoman dalam penyusunan laporan keuangan untuk tujuan umum dan menjadi pedoman bagi penyusun standar akuntansi untuk mengembangkan standar akuntansi di masa yang akan datang dan sebagai pedoman dalam menyelesaikan permasalahan yang belum diatur secara khusus di dalam pernyataan standar akuntansi. KDPPLK disebut dengan kerangka konseptual yang diadopsi secara langsung dari conceptual framework IAS.

KDPPLK ini ditujukan untuk:

  1. Penyusun standar akuntansi dalam menyusun dan mengembangkan standar akuntansi
  2. Penyusun laporan keuangan dalam mengatasi masalah yang belum diatur dalam standar
  3. Para pemakai dalam menafsirkan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan

Kerangka konseptual berisikan konsep umum dalam menyusun laporan keuangan dan berfungsi  sebagai acuan untuk mengatasi masalah yang belum atau tidak diatur secara khusus dalam standar. Namun jika sudah ada standar akuntansi yang mengatur maka perlakuan akuntansinya akan mengikuti standar tersebut. Misalkan aset tetap, pengaturan aset  tetap tidak mengikuti aturan umum yang dimuat dalam kerangka konseptual namun mengikuti standar yang sudah mengaturnya yakni PSAK 16. Namun untuk permasalahan lain yang tidak atau belum diatur dalam standar dapat mengacu pada kerangka konseptual seperti soal biaya dibayar dimuka yang tidak diatur secara khusus dalam standar. Ketentuan pengukuran dan penyajian biaya dibayar dimuka dalam laporan keuangan dapat menggunakan asumsi dasar akrual dalam kerangka konseptual.

KDPPLK bukanlah standar akuntansi. Bilamana terjadi pertentangan antara standar akuntansi dengan kerangka konseptual maka standar akuntansi lebih diunggulkan. KDPPLK secara umum berisikan:

  • Tujuan dan Pengguna Laporan Keuangan
  • Asumsi Dasar
  • Karakteristik Kualitatif
  • Unsur-unsur yang terkandung dalam laporan keuangan
  • Konsep pemeliharaan modal

Penjelasan untuk setiap butir di atas adalah sebagai berikut:

  1. Tujuan dan Pengguna Laporan Keuangan

Tujuan laporan keuangan berdasarkan kerangka konseptual adalah untuk “menyediakan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan, dan perubahan posisi keuangan yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi” (paragraf 12).

Dari paragraf tersebut kita dapat menggarisbawahi bahwa tujuan utama laporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan ekonomi yang dilakukan oleh banyak pengguna. Patut dicamkan bahwa penyusunan dan penyajian laporan keuangan akan berbeda jika tujuannya misalnya untuk memastikan pelayanan yang baik. Dan patut dicamkan pula bahwa penyusunan dan penyajian laporan keuangan akan berbeda jika tujuannya adalah untuk menyediakan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan misalnya untuk manajemen saja.

Pengguna laporan keuangan meliputi investor, calon investor, kreditor, karyawan, pemasok dan kreditor lainnya, pemerintah, dan masyarakat. Pengguna tersebut menggunakan laporan keuangan untuk memenuhi kebutuhan informasi yang berbeda, diantaranya sebagai berikut:

  • Investor dan calon investor: menilai entitas dan kemampuan membayar deviden di masa mendatang, investor dapat memutuskan untuk membeli atau menjual saham entitas.
  • Kreditor: menilai kemampuan bank dalam membayang utang dan bunga
  • Karyawan: menilai kemampuan membayar balas jasa, manfaat pensiun, dan kesempatan kerja.
  • Pemasok dan kreditor lainnya: kemampuan entitas membayar liabilitasnya yang akan jatuh tempo
  • Pemerintah: menilai bagaimana alokasi sumber daya
  • Masyarakat: menilai tren dan perkembangan kemakmuran entitas
  1. Asumsi Dasar

Asumsi dasar yang digunakan dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan berdasarkan kerangka konseptual adalah asumsi going concern dan asumsi dasar akrual. Going concern (kelangsungan usaha) menganggap bahwa perusahaan akan terus beroperasi di masa-masa yang akan datang, tidak ada asumsi bahwa entitas akan bubar. Yang menjadi fokus bukan keterus menerusannya, tetapi asumsi ini menjadi dasar bagi kewajaran nilai yang dicantumkan dalam informasi keuangan.  Asumsi dasar lainnya adalah basis akrual, dalam basis akrual pengaruh transaksi dan peristiwa lainnya diakui pada saat terjadinya bukan pada saat kas diterima atau dibayarkan. Penentuan pendapatan dan biaya dari posisi harta dan kewajiban ditetapkan tanpa melihat apakah transaksi kas telah dilakukan atau tidak. Penentuannya bukan keterlibatan kas, tetapi didasarkan kepada faktor legalnya apakah memang sudah merupakan hak (pendapatan) atau kewajiban (beban) perusahaan atau belum. Kalau sudah, harus dicatat tanpa menunggu penerimaan atau pembayaran kas.

  1. Karakteristik Kualitatif

Agar laporan keuangan dapat menyediakan informasi yang berguna dalam pengambilan keputusan ekonomi bagi para pengguna laporan, KDPPLK mensyaratkan informasi yang dimuat dalam dalam laporan keuangan agar dapat memenuhi empat karakteristik kualitatif yakni: dapat difahami, relevan, keandalan, dan dapat diperbandingkan (paragraf 24).

Laporan keuangan harus dapat difahami oleh para pemakai agar dapat digunakan dalam pengambilan keputusan ekonomi. Untuk dapat difahami, pengguna laporan keuangan diasumsikan memiliki pengetahuan yang memadai mengenai aktivitas ekonomi, bisnis, akuntansi, serta memiliki kemauan untuk mempelajari informasi.

Agar bermanfaat, informasi yang disajikan dalam laporan keuangan harus relevan. Relevan berhubungan dengan kegunaan informasi tersebut dalam pengambilan keputusan. Informasi dikatakan relevan jika informasi tersebut dapat memengaruhi keputusan ekonomi pengguna sehingga dapat membantu dalam mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa kini, atau masa yang akan datang. Di samping itu, informasi yang dicantumkan dalam laporan keuangan juga harus dapat diandalkan. Informasi yang andal adalah informasi yang bebas dari pengertian yang menyesatkan, bebas dari salah saji material, dan dapat diandalkan pengguna sebagai penyajian yang tulus dan jujur dari yang seharusnya disajikan. Keandalan laporan keuangan meliputi ciri-ciri:

  • Penyajian yang jujur
  • Netralitas
  • Substansi mengungguli bentuk
  • Pertimbangan sehat, dan
  • Kelengkapan

Laporan keuangan harus dapat diperbandingkan dengan waktu dan tempat tertentu agar dapat bermanfaat bagi pengguna.

KDPPLK mengakui bahwa terdapat bebrapa situasi konflik diantara karakteristik kualitatif. Misalnya mengenai harga tanah, pada tahun 20X1 harga sebidang tanah adalah Rp 100 juta sedangkan pada tahun 20X3 nilai pasar dari harga tanah tersebut telah naik menjadi Rp 300 juta. Pertanyaan yang timbul adalah harga mana yang akan digunakan dan disajikan dalam laporan keuangan. Jika berdasarkan historical cost, harga sebesar Rp 100 juta dapat diandalkan untuk digunakan namun tidak relevan bagi para pengambil keputusan pada tahun 20X3 (misalnya, kreditor dan investor ingin mengetahui nilai pasar tanah tersebut saat ini (20X3) bukan nilai hisotrisnya). Harga tanah sebesar Rp 300 juta lebih relevan namun tidak dapat diandalkan (teknik estimasi yang digunakan dapat menghasilkan nilai yang berbeda). Untuk itu penyusun laporan keuangan diharuskan untuk membuat keseimbangan diantara karakterisktik kualitatif sehingga tujuan laporan keuangan dapat tercapai.

  1. Unsur-unsur yang terkandung dalam laporan keuangan

Unsur-unsur dalam laporan keuangan terbagi ke dalam kelompok yang menggambarkan karakateristik ekonominya. Unsur-unsur yang berkaitan dengan posisi keuangan perusahaan adalah aset, liabilitas, dan ekuitas. Unsur-unsur yang berkaitan dengan kinerja perusahaan adalah penghasilan dan beban. Aset didefinisikan sebagai sumber daya yang dikuasai oleh entitas sebagai akibat dari peristiwa masa lalu yang diharapkan dapat mengalirkan manfaat di masa yang akan datang bagi entitas tersebut. Yang perlu digaris bawahi di sini adalah “penguasaan”, entitas mengakui sejumlah sumber daya sebagai aset apabila entitas memiliki kendali dan kuasa atas sumber daya tersebut meski tidak dimiliki. Contohnya, entitas harus menyertakan kendaraan bermotor yang diperolehnya melalui perjanjian sewa beli atau mesin yang disewakan lewat perpajian sewa (dapat dibelakukan dengan ketetapan PSAK 30 tentang sewa) sebagia aset. liabilitas adalah kewajiban masa kini entitas yang timbul dari peristiwa masa lalu, penyelesaiannya diharapkan akan menyebabkan arus keluar sejumlah sumber daya entitas yang mengandung manfaat ekonomi. Sedangkan ekuitas adalah hak residual atas aset entitas setelah dikurangi seluruh liabilitas. Dapat dilihat bahwa ekuitas tidak didefinisikan jenisnya dan hanya diungkapkan sebagai persamaan matematis:

Ekuitas = Aset – Liabilitas

Penghasilan merupakan kenaikan manfaat ekonomi selama satu periode berupa pemasukan atau penambahan aset perusahaan atau penurunan liabilitas yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang bukan berasal dari kontribusi pemilik. Penghasilan meliputi pendapatan dan keuntungan. Pendapatan timbul dari aktivitas operasi normal perusahaan sedangkan keuntungan merupakan pos lain yang memenuhi definisi penghasilan dan mungkin timbul atau tidak timbul dalam pelaksanaan aktivitas entitas yang biasa.

Beban merupakan penurunan manfaat ekonomi selama satu periode berupa pengurangan aset atau penambahan liabilitas yang mengakibatkan penurunan ekuitas yang bukan merupakan disrtribusi kepada pemilik.  Beban mencakup beban yang timbul dari aktivitas operasi normal perusahaan dan kerugian yang merupakan pos lain yang memenuhi definisi beban. kerugian mencerminkan penurunan manfaat ekonomi. Kerugian ini mungkin timbul atau mungkin tidak timbul dari pelaksanaan aktivitas operasi normal perusahaan.

  1. konsep pemeliharaan modal

Konsep pemeliharaan modal dalam kerangka konseptual terdiri dari konsep pemeliharan modal keuangan dan konsep pemeliharaan modal fisik. Konsep pemeliharan modal penting artinya dalam mengukur laba yang diperoleh perusahaan. Menurut Hicks, seorang ekonom, laba adalah jumlah maksimum yang dapat dikonsumsi oleh sebuah perusahaan dalam suatu periode, namun kekayaan awal periode perusahaan sama dengan kekayaan akhir periode perusahaan. Oleh karena itu laba adalah kelebihan setelah posisi awal dipelihara

Untuk mengilustrasikan konsep pemeliharaan modal, misalkan PT. A membeli persediaan pada 1 januari 20X1 sejumlah Rp 100.000 dan menjual persediaan tersebut dengan tunai seharga Rp 150.000 pada akhir tahun. Pada 31 Desember 20X1, persediaan yang sama ternyata bernilai Rp 120.000. Untuk mengukur laba yang diperoleh PT. A maka, menurut Hicks, modal awal harus dipelihara (kekayaan awal periode sama dengan kekayaan akhir periode). Jika PT. A hendak memelihara modal keuangan maka laba yang diperoleh adalah sebesar Rp 50.000 (Rp 150.000 – Rp 100.000) karena perusahaan memilih untuk menyisihkan Rp 100.000 untuk memelihara kekayaan yang sama dengan awal periode. Jika PT. A hendak memelihara modal fisik maka PT. A harus menyisihkan Rp 120.000 agar jumlah fisik persediaan dapat dipertahankan sama dengan awal periode (kekayaan perusahaan akhir periode sama dengan kekayaan awal periode) sehingga laba yang diperoleh adalah sebesar Rp 30.000 (Rp 150.000 – Rp 120.000).

Referensi:

Dwi Martani, et al. 2014. Akuntansi Keuangan Menengah Berbasis PSAK. Salemba Empat. Jakarta.

Juan, Ng Eng  dan Era Tri Wahyuni. 2012. Panduan Praktik Standar Akuntansi Keuangan. Salemba Empat. Jakarta.

Harahap, Sofyan Syarif. 2011. Teori Akuntansi. Rajawali Pers. Jakarta.

Advertisements