Kritik ke atas konsep time value of money ini disampaikan oleh Ir. Adiwarman A. Karim, S.E., M.B.A., M.A.E.P dalam apendiks buku yang ditulis oleh beliau “Bank Islam: Analisis Fiqih dan Keuangan”. Untuk itu, di bawah ini merupakan argumentasi beliau mengenai konsep time value of money yang saya tulis ulang:

Kuantitas waktu sama bagi semua orang, yaitu 24 jam sehari, 7 hari sepekan. Namun nilai dari waktu akan berbeda dari satu orang ke orang lainnya. Misalnya, bagi seorang buruh kasar satu jam kerja bernilai Rp 25.000, bagi seorang manajer keuangan satu jam bernilai Rp 250.000,- sedangkan bagi seorang pakar ekonomi syariah satu jam bernilai Rp 2.500.000,-

Jadi, faktor yang menentukan nilai waktu adalah bagaimana seseorang memanfaatkan waktu itu. Semakin efektif (tepat guna) dan efisien (tepat cara), maka akan semakin tinggi nilai waktunya. Efektif dan efisien akan mendatangkan keuntungan di dunia bagi siapa saja yang melaksanakannya. Oleh karena itu, siapa pun pelakunya, secara sunnatullah akan mendapatkan keuntungan di dunia.

Lebih dari itu, dalam islam, keuntungan yang dicari bukan saja keuntungan di dunia, tetapi juga di akhirat. Oleh karenanya, pemanfaatan waktu itu bukan saja harus efektif dan efisien, tapi ia juga harus didasari dengan keimanan. Keimanan inilah yang akan mendatangkan keuntungan di akhirat. Sebaliknya, jika keimanan tidak mampu mendatangkan keuntungan di dunia, berarti ada faktor-faktor yang belum diamalkan.

Dalam ekonomi konvensional, time value of money didefinisikan sebagai:

A dollar today is worth more than a dollar in the future because a dollar today can be invested to get a return

Definisi ini tidak akurat karena setiap investasi selalu mempunyai kemungkinan untuk mendapat positive, negative, atau no return. Itu sebabnya dalam teori finance, selalu dikenal risk-return relationship.

Menurut ekonom konvensional, ada dua hal yang mendasari konsep time value of money (Lihat misalnya Aswath Damodaran (2001), Corporate Finance: Theory and Practice 2nd ed, New York: John Wiley & Sons), yakni:

  1. Presence of inflation

Katakanlah tingkat inflasi 10% per tahun. Seseorang dapat membeli sepuluh potong goreng pisang hari ini dengan membayar sejumlah Rp. 10.000,-. Namun bila ia membelinya tahun depan, dengan sejumlah uang yang sama, yaitu Rp 10.000,-, ia hanya dapat membeli sembilan pisang goreng (harga pisang goreng hari ini Rp 1000 dan tahun depannya adalah Rp 1100). Oleh karena itu, ia akan meminta kompensasi untuk hilangnya daya beli uangnya akibat inflasi.

  1. Preference present consumption to future consumption

Bagi umumnya individu, present consumption lebih disukai daripada future consumption. Katakanlah tingkat inflasi nihil, sehingga dengan uang Rp 10.000,-  seseorang tetap dapat membeli sepuluh pisang goreng hari ini maupun tahun depan. Bagi kebanyakan orang, mengkonsumsi sepuluh pisang goreng hari ini lebih disukai daripada mengkonsumsi sepuluh psang goreng tahun depan. Dengan argumentasi ini, meskipun suatu perekonomian tingkat inflasinya nihil, seseorang lebih menyukai Rp 10.000 hari ini dan mengkonsumsi hari ini. Oleh karena itu, untuk menunda konsumsi, ia meminta kompensasi.

Argumentasi pertama tidak dapat diterima karena tidak lengkap kondisinya (non exhausted condition). Dalam setiap perekonomian selalu ada keadaan inflasi dan keadaan deflasi. Bila keberadaan inflasi menjadi alasan adanya time value of money, seharusnya keberadaan deflasi menjadi alasan adanya negative time value of money. Katakanlah tingkat deflasi 10% per tahun. Seseorang dapat membeli sepuluh potong pisang goreng hari ini dengan membayar sejumlah Rp 10.000,-. Namun, bila ia membelinya tahun depan dengan sejumlah uang yang sama yaitu Rp 10.000,-, ia dapat membeli sebelas pisang goreng (harga satu potong pisang goreng tahun depan Rp 900,-). Oleh karena itu, ia akan memberi kompensasi untuk naiknya daya beli uangnya akibat deflasi. Inikah yang berlaku? Ternyata tidak. Hanya satu kondisi saja yang diakomodir oleh konsep time value of money, yaitu kondisi inflasi sedangkan kondisi deflasi diabaikan. Argumen kedua adalah sebagai berikut:

Ketidakpastian Laba

Sebenarnya dalam ekonomi konvensional, penerapan time value of money tidak senaif yang dibayangkan, misalnya dengan mengabaikan ketidakpastian return yang akan diterima. Bila unsur ketidakpastian return ini dimasukkan, ekonomi konvensional menyebut kompensasinya sebagai discount rate.

Jadi dalam ekonomi konvensional, ketidakpastian return dikonvesi menjadi suatu kepastian melalui premium for uncertainty. Dalam setiap investasi tentu selalu ada probabiliti untuk mendapat positive return, negative return, dan no return. Probabiliti untuk mendapatkan negative return dan no return ini yang dipertukarkan (exchange of liabilities) dengan sesuatu yang pasti, yaitu premium for uncertainty.

Katakanlah probabiliti positive return dan negative return masing-masing 0,4 sedangkan probabiliti no return sebesar 0,2. Yang dilakukan dalam perhitungan discount rate adalah mempertukarkan probabiliti negative return (0,4) dan probabiliti no return (0,2) ini dengan premium for uncertainty, sehingga yang tersisa tinggal probabiliti untuk positive return (1,0).

Keadaan Natural Uncertainty

(Probability)

Discount Rate

(Probability)

Positive return

No return

Negative return

0,4

0,2

0,4

1,0

0,0

0,0

Keadaan inilah yang ditolak dalam ekonomi syariah, yaitu keadaan al ghunmu bi la ghurmi (gaining return without responsible for any risk) dan al-kharaj bi la dhaman (gaining income without responsible for any expenses). Sebenarnya keadaan ini juga ditolak oleh teori finance, yaitu dengan menjelaskan adanya hubungan risk dan return, bukankah return goes along with risk?

Itulah kritik ke atas konsep time value of money yang disampaikan oleh ekonom syariah Ir. Adiwarman A. Karim, S.E., M.B.A., M.A.E.P

Oke cukup sekian, terimakasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat 🙂

Advertisements