Siklus akuntansi biaya pada suatu perusahaan sangat dipengaruhi oleh siklus kegiatan usaha perusahaan tersebut. Siklus kegiatan perusahaan manufaktur dimulai dengan mengolah bahan mentah menjadi produk yang siap dijual di bagian ke produksi dan berakhir dengan mengirim dan menyimpan produk yang siap dijual tersebut ke bagian gudang (jika diproduksi secara masal) atau berakhir dengan memberikan produk tersebut ke pemesan (jika diproduksi berdasarkan pesanan). Dengan demikian siklus akuntansi biaya pada perusahaan manufaktur dimulai dengan pencatatan harga pokok bahan baku yang digunakan dalam proses produksi, kemudian dilanjutkan dengan mencatat biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik hingga produk tersebut siap untuk dijual.  Siklus akuntansi biaya pada perusahaan manufaktur dapat digambarkan sebagai berikut

siklus akuntansi biaya perusahaan manufaktur

Sebelumnya kita sudah bahas mengenai metode harga pokok pesanan (job order cost methode) dan sekarang kita akan bahas lebih lanjut contoh kasus untuk metode tersebut dengan menggunakan pendekatan full costing.

Contoh:

PT. Accorner merupakan perusahaan yang bergerak di bidang percetakan. Semua pesanan diproduksi berdasarkan spesifikasi yang diminta oleh pemesan dan biaya produksi dikumpulkan menurut pesanan yang diterima. Perusahaan menggunakan pendekatan full costing dalam penentuan harga pokok produksi. Dalam mencatat biaya produksi, setiap pesanan diberikan nomor pesanan dan setiap dokumen sumber dan dokumen pendukung diberi indentitas nomor pesanan yang bersangkutan. Pada bulan november 20X2, PT Accorner mendapat pesanan untuk mencetak undangan sebanyak 1500 lembar dari PT Rimendi dengan harga Rp 3.000 per lembar. Dalam bulan yang sama perusahaan juga menerima pesanan untuk mencetak pamflet iklan sebanyak 20.000 lembar dari PT. Oki dengan harga Rp 1.000 per lembar. Pesanan dari PT Rimendi diberi nomor 101 dan pesanan dari PT Oki diberi nomor 102. Kegiatan produksi dan kegiatan lain untuk memenuhi pesanan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Pembelian bahan baku dan bahan penolong

Bahan baku dan bahan penolong yang dibeli pada tanggal 3 November untuk keperluan produksi adalah sebagai berikut:

1 - Copy

Perusahaan membeli bahan baku dan bahan penolong secara kredit. Bahan baku dan bahan penolong dibeli oleh bagian pembelian. Bahan tersebut disimpan didalam gudang menanti hingga saatnya digunakan dalam proses produksi. Perusahaan menggunakan dua rekening kontrol untuk mencatat persediaan bahan: Persediaan Bahan Baku dan Persediaan Bahan Penolong. Pembelian bahan baku dan bahan penolong di atas dicatat sebagai berikut:

22. Pemakaian bahan baku dan bahan penolong dalam proses produksi

Untuk dapat mencatat bahan baku dan bahan penolong dalam tiap pesanan, perusahaan menggunakan dokumen yang disebut bukti permintaan dan pengeluaran barang gudang. Dokumen ini diisi oleh bagian produksi dan diserahkan ke bagian gudang untuk meminta bahan baku yang dibutuhkan untuk memenuhi pesanan. Kemudian, bagian gudang akan mengisi jumlah bahan baku yang diserahkan ke bagian produksi pada dokumen tersebut. Dokumen tersebut selanjutnya digunakan sebagai dokumen sumber untuk dasar pencatatan pemakaian bahan. Untuk memproses pesanan 101 dan 102 digunakan bahan sebagai berikut:

3 dan 4 - Copy (2)

Jumlah bahan baku yang dipakai (Rp 1.350.000 + Rp 4.125.000) = Rp 5.475.000

Sementara itu, bahan penolong yang digunakan untuk memproses kedua pesanan tersebut adalah sebagai berikut:

3 dan 4 - Copy

Atas dasar bukti permintaan dan pengeluaran gudang tersebut, jurnal yang diperlukan adalah sebagai berikut:

3 dan 4

Karena dalam metode harga pokok pesanan harus dipisahkan antara biaya langsung dengan biaya tidak langsung maka pemakaian bahan penolong yang merupakan biaya tidak langsung dicatat dengan mendebet rekening Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya dan mengkredit Persediaan Bahan Penolong.

Kenapa bukan dengan mendebet rekening Barang Dalam Proses – Biaya Overhead Pabrik?

Rekening Barang Dalam Proses – Biaya Overhead Pabrik hanya didebet untuk mencatat biaya overhead pabrik berdasarkan tarif yang ditentukan dimuka. Jadi pemakaian bahan baku akan dijurnal sebagai berikut:

53. Pencatatan biaya tenaga kerja

Untuk mencatat biaya tenaga kerja, terlebih dahulu dipisahkan antara upah langsung dan upah tidak langsung. Upah langsung dicatat dengan mendebet rekening Barang Dalam Proses – Biaya Tenaga Kerja Lansung sedangkan upah tidak langsung dicatat dengan menggunakan rekening Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya. Misalkan biaya tenaga kerja yang dikeluarkan oleh departemen produksi adalah sebagai berikut:

6 - Copy

Pencatatan biaya tenaga kerja dilakukan dengan tahap-tahap berikut:

a. Pencatatan biaya tenaga kerja yang terutang oleh perusahaan

6b. Pencatatan distribusi biaya tenaga kerja

Karena biaya tenaga kerja terdiri dari beberapa unsur biaya yakni biaya tenaga kerja lansung, biaya tenaga kerja tidak langsung, dan biaya non produksi (gaji karyawan bagian adm dan bagian pemasaran) maka diperlukan adanya distribusi biaya tenaga kerja sehingga jurnal untuk mencatat transaksi biaya tersebut adalah sebagai berikut:

8 - Copyc. Pencatatan pembayaran gaji dan upah

Gaji dan upah yang dibayarkan akan dicatat dengan jurnal berikut:

84. Pencatatan biaya overhead pabrik

Pencatatan biaya overhead pabrik dibagi menjadi dua yakni biaya overhead pabrik berdasarkan tarif yang ditentukan di muka dan biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi. Biaya overhead pabrik berdasarkan tarif yang ditentukan di muka adalah biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada produk pesanan. Tarif biaya overhead pabrik ini umumnya dihitung di awal tahun anggaran berdasarkan angka anggaran biaya overhead pabrik. Biaya overhead pabrik berdasarkan tarif yang ditentukan di muka di catat mendebet rekening Barang Dalam Proses – Biaya Overhead Pabrik dan mengkredit rekening Biaya Overhead yang Dibebankan. Biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi merupakan biaya overhead pabrik yang benar-benar terjadi pada saat proses produksi dan dicatat dengan mendebet rekening kontrol Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya. Secara periodik (biasanya akhir bulan) biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada produk akan dibandingkan dengan biaya overhead pabrik sesungguhnya dengan mendebet rekening Biaya Overhead Pabrik yang Dibebankan dan mengkredit rekening Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya kemudian dihitung selisihnya. Misalkan biaya overhead pabrik yang dibebankan kepada produk adalah sebesar 150% dari biaya tenaga kerja masing-masing produk sehingga biaya overhead pabrik yang dibebankan pada masing-masing produk adalah sebagai berikut:

9 - Copy (2)

Jurnal untuk mencatat biaya overhead pabrik yang dibebankan di atas adalah:

9 - Copy

Misalkan selama proses produksi terdapat biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi selain yang disebut dalam jurnal #4 dan #6 seperti berikut:

9

Jurnal untuk mencatat biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi seperti disebut di atas adalah sebagai berikut:

10

Untuk mengetahui apakah biaya overhead pabrik yang dibebankan menyimpang dari biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi maka saldo rekening Biaya Overhead Pabrik yang Dibebankan ditutup ke rekening Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya.

11

Setelah itu kita hitung saldo Biaya Overhead Pabrik yang sesungguhnya terjadi seperti berikut:
15 - Copy (2)

Selisih tersebut akan dipindahkan ke rekening Selisih Biaya Overhead Pabrik dengan mencatat jurnal berikut:

15 - Copy5. Pencatatan harga pokok produk jadi

Harga pokok produk yang sudah jadi dapat dihitung dari informasi biaya yang dikumpulkan dalam kartu harga pokok pesanan yang bersangkutan. Misalkan produk yang sudah selesai diproduksi adalah pesanan 101 . Harga pokok produk pesanan 101 berdasarkan kartu harga pokok pesanan adalah sebagai berikut:

12 - Copy

Harga pokok produk pesanan 101 dicatat dengan jurnal berikut:

126. Pencatatan harga pokok yang masih dalam proses

Pada akhir periode, kemungkin terdapat produk yang masih dalam proses produksi. Biaya yang telah dikeluarkan untuk pesanan tersebut dapat dilihat dalam kartu harga pokok pesanan yang bersangkutan kemudian dibuat jurnal untuk mencatat persediaan produk dalam proses dengan mendebet rekening Persediaan Produk Dalam Proses dan mengkredit rekening Barang Dalam Proses. Misalkan produk yang masih dalam proses adalah pesanan 102 dengan rincian biaya berdasarkan kartu harga pokok pesanan adalah sebagai berikut:

13 - Copy (2)

Jurnalnya adalah:13 - Copy7. Pencatatan harga pokok produk yang dijual

Harga pokok produk yang diserahkan kepada pemesan dicatat dengen mendebet rekening Harga Pokok Penjualan dan mengkredit Persediaan Produk Jadi. Untuk pesanan 101 jurnalnya adalah sebagai berikut:

138. Pencatatan pendapatan penjualan produk

Pendapatan dicata dengan mendebet rekening Piutang Dagang (penjualan dilakukan secara kredit) dan mengkredit rekening Hasil Penjualan. Di awal disebutkan bahwa harga jual untuk pesanan 101 adalah Rp 3000 per lembar dengan jumlah sebanyak 1500 lembar sehingga jumlah keseluruhannya adalah RP 4.500.000. Jurnal yang dibuat adalah sebagai berikut:

14

Oke cukup sekian, aga pegel ngetiknya 😀 tapi semoga bermanfaat, setelah ini silahkan baca metode harga pokok proses

Terimakasih sudah berkunjung 🙂

Notes: contoh beserta penjelasan diambil dari buku akuntansi biaya (Mulyadi, 2010)

Advertisements